Kamis, 26 Agustus 2010
Apartemen 60 Lantai
"Nanti di atas, kita bisa nonton tv, main video game, masak terus makan masakan buatan sendiri, bisa bersantai sambil mendengarkan musik, bisa meneropong jauh, bersantai, mandi dulu, pokoknya enak deh..." demikian pikir mereka.
Sesampainya mereka di sana, mereka menemui developer. Ternyata, apartemen itu baru setengah jadi dan lift belum terpasang. Mereka sangat kecewa dibuatnya. Mereka ingin pulang ke rumah lama mereka, tapi kontrak mereka sudah habis. Dengan sangat terpaksa, mereka harus tetap naik ke atas sana dan tinggal di dalamnya menggunakan tangga darurat. Mereka naik membawa semua barang mereka menggunakan tangga darurat. tangga demi tangga dilalui, mereka terus maju dengan semangat membara.
Sesampainya mereka di lantai 25 mereka kelelahan, mereka makan dan minum dengan lahapnya. Lalu mereka melihat barang-barang mereka, semuanya utuh. Timbul sebuah pikiran untuk mengurangi barang bawaan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk meninggalkan meja telepon dengan teleponnya. "Toh diatas kita tidak perlu telepon atau pesan apa-apa," demikian menurut mereka.
Di lantai 30 mereka tinggalkan baju, mainan dan lemari pakaian mereka. "Toh kita masih memakai baju."
Lalu mereka terus melaju ke lantai 35, mereka masih mengeluh dan memutuskan untuk meninggalkan barang mereka lagi yaitu televisi dan radio serta compo. "Soalnya kita tidak perlu nonton tv, toh acara dan lagu-lagu yang kita punya itu-itu saja."
Teruslah mereka melaju sampai lantai 45, rasanya masih berat dan tidak menyenangkan. Maka mereka tinggalkan kompor dan bahan makanan yang mereka bawa. "Toh tadi masih kenyang makan banyak."
Lalu, di lantai 55 teropong dengan tripod yang sangat besar mereka tinggalkan begitu saja. "Toh di atas mau lihat apa, belum jadi semua tower yang lain."
Sesampainya di lantai 60, mereka masuk dan menyadari yang mereka miliki hanya sebuah kasur. Tidak ada jalan lain, mereka hanya ingin tidur karena tidak ada pilihan lain.
---
Mungkin Anda bingung kenapa perumpamaan ini sangat panjang. Perjalanan itu melambangkan kehidupan. Tiap lantai yang ada, melambangkan umur. Dan Anda adalah keluarga tersebut. Barang-barang tersebut adalah mimpi Anda, barang-barang tersebut adalah perlambang tindakan Anda.
Di umur 25 Anda mulai bekerja dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan Anda, tanpa sadar Anda telah mengeliminasi banyak sahabat potensial. Di umur 30 Anda sudah tidak memperhatikan penampilan dan melupakan hobi Anda akibat sulitnya bersaing. Di umur 35 Anda mulai melupakan kesenangan yang Anda dambakan di hari tua akibat kenyataan bahwa tabungan Anda tidak mencukupi. Di umur 45 Anda berhenti makan makanan yang Anda sukai akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan di usia 25 yang mulai berdampak buruk di usia ini. Di umur 55 Anda benar-benar melupakan keinginan menikmati hari tua dengan memandang indahnya hidup dengan menikmati apa yang Anda lewati, Anda mulai kuatir dengan masa depan anak Anda. Di umur 60, Anda menyesal tidak banyak yang Anda dapat akibat tidak ada mimpi yang direalisasikan. Anda hanya ingin cepat tidur selamanya, karena Anda sudah tidak bisa lagi makan makanan enak, Anda tidak memiliki "achievement" yang bisa dibanggakan, Anda tidak punya siapapun yang menjadi sahabat Anda, Anda tidak bisa menikmati hobi Anda di masa muda, kesehatan badan mengkuatirkan.
Hidup cuma datang sekali. Jadi pastikan, Anda akan berjuang untuk mencaoai mimpi-mimpi Anda! Jangan lepaskan, tapi usahakan. Jangan sampai kita kehabisan pilihan dalam menjalani hidup
"Not Me, Boss"
Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebu! t, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.
Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.
Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!
Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut "Not me, Boss! Selama ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!"
Moral kisah :
Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?
Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?
Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu.
Rabu, 25 Agustus 2010
Cerita Kasih Sang Malaikat Kecil
itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh
koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air
matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi
khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang
baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno,
mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.
Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan
beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.
Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan
ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “boleh ayah akan saya makan curd
rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya
akan minta” agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua
nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”
Aku menjawab “oh pasti, sayang.”
Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah ?”
“Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai
tanda setuju.”
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu
yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir
dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena
ayah saat ini tidak punya uang.”
Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian
Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad
menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku
yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan
semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau
kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan
gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi
dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak
kebudayaan kita.
Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih
melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada
keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu
tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.
Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya
menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan
saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah
mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang
apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk
memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya
sendiri.
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus
ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak,
jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana
menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala
botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke
kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian
tangannya.
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu tolong tunggu
saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.
Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya
seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak
laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita
kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu
Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak
jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah
Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi
ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau
mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh
diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”
Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang
kasih.....
Sabtu, 21 Agustus 2010
The Power of Kepepet
kurang dari 5 juta sebulan. Apakah Anda bisa mendapatkan uang 50 juta, jam
9 esok hari?" Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta seminar,
hampir semua menjawab, tidak bisa. Kenapa? Karena mereka mengukur
kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan penghasilan 5 juta
perbulan, jika saving-nya 2 juta perbulan, maka perlu 25 bulan untuk
mendapatkan 50 juta.
Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari ini,
anak Anda atau orang yang paling Anda sayangi mendadak sakit keras. Dokter
mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi besok juga, jika
tidak, maka nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya bisa
dilaksanakan jika Anda menyerahkan uang tunai sejumlah 5 juta rupiah
sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah Anda masih akan mengatakan tidak
bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus bisa". Kenapa? Karena kepepet, jika
tidak, nyawa orang yang kita cintai tsb akan melayang.
Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang kepepet dan tidak
diberikan pilihan untuk "tidak bisa", manusia akan mencari jalan untuk
berpikir "bagaimana harus bisa". Tetapi kenapa sukses, kaya, membahagiakan
orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang mendesak?
Sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, di luar
apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali hanya akan
keluar pada kondisi terdesak, seperti seorang nenek bisa melompat dari
gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran.
KEPEPET VS IMING-IMING
Ada 2 sebab yg membuat orang tak tergerak untuk berubah. Yang
pertama adalah impiannya kurang kuat, yang kedua tidak kepepet. Dua hal
tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi. Kesalahan fatal
yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi lainnya
adalah hanya menggunakan impian sebagai 'iming-iming' untuk menggerakkan
audiens. "Apa Impian anda? Siapa yang impiannya punya mobil mewah? Rumah
mewah? atau bahkan kapal pesiar?" Memang, saat di ruang seminar, mereka
sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya,
sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin juga
halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka sayangi.
Apa jadinya? Mereka tetap diam ditempat.
Contoh yang kedua, ada seorang salesman yang bekerja di suatu
perusahaan. Seperti perusahaan lainnya, mereka menerapkan sistem bonus.
"Jika anda mencapai target yang telah ditentukan, maka anda akan mendapat
bonus jalan-jalan keluar negeri!" kata managernya. "Gimana, semangat?"
lanjut manager berinteraksi. "Semagaat..ngat..ngat!" sambut salesman,
sambil mengepalkan tangannya seolah siap tempur. Bulan demi bulan pun
berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian si manager bertanya,"Apa bonus
yang aku tawarkan kurang besar?". "Enggak kok Pak, cukup besar,
mudah-mudahan bulan depan tercapai Pak". Setelah 3 bulan masa 'iming-iming'
tak berhasil, si manager mulai mengubah strategi. Dia berteriak agak
menekan di dalam meetingnya,"Pokoknya, jika anda tidak bisa mencapai target
penjualan yang sudah saya tetapkan, anda saya PECAT!". Nah, keluarlah
keringat dingin si salesman. Sekeluar dari ruangan dia langsung menyambangi
calon-calon customernya, kerjanyapun semakin giat. Malas, malu, nggak
pe-denya hilang seketika. Kok bisa? Karena KePePet! Yang dia pikirkan, jika
dia tidak dapat memenuhi target, dia akan dipecat. Jika dipecat,
penghasilannya akan nol. "Trus anak istriku makan apa?" pikirnya. Anehnya,
target penjualan yang selama ini tidak pernah tercapai, bisa juga
terlampaui. Itulah yang disebut The Power of Kepepet.
97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming.
Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa "Kondisi Kepepet adalah motivasi
terbesar di dunia!". Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada
seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? "Emang gua pikirin!". Bukannya salah
karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu
tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang
berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment.
John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan "Establishing Sense
of Urgentcy" adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam
suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan
krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan visi. Fungsi
Visi adalah memberikan arah, sedangkan The Power of Kepepet yang mendorong
untuk bergerak.
MENCIPTAKAN KONDISI KEPEPET
Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang
'kepepet' sebelumnya. Seperti pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan
gaya tolak yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita lakukan? Cara
pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, dengan cara
menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet,
maka kita akan memfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja
secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini Anda di-PHK, apa yang
Anda rasakan?
Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara fisik. Misalnya
dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita
termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan
langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang memberanikan diri
membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu terpaksa berpikir
bagaimana melunasinya. Jika Anda masih single dan tidak punya tanggungan
keluarga, mungkin Anda mau langsung mencoba keluar kerja dan mulai usaha?!
Semua itu pilihan Anda lho, jangan salahkan saya untuk risikonya.
Tergantung dari karakter masing-masing orang. Saya menempuh cara yang
terakhir, cukup konyol, tapi berhasil. Namun jangan lupa, Integritas dan
Kredibilitas tetap harus dijaga.
Cara manapun yang akan Anda pilih, yang penting MELANGKAH,
jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca tulisan saya ini. Karena
kehidupan Anda tidak akan berubah hanya dengan membaca, tapi dengan ACTION.
semoga berguna.
*Tulisan ini bukanlah tulisan saya, namun saya dapat dari milis
Sungguh menarik bagi saya, dan ingin saya share disini
Jumat, 20 Agustus 2010
Tuhan gak Pernah beri apa yg kuminta
waktu ku mohon berikan aku kebijaksanaan padaMU, ENGKAU timbulkan masalah dalam hidupku,
waktu ku minta keberanian, ENGKAU ijinkan bahaya menimpaku,
waktu ku berdoa untuk berikan aku kesejahteraan, ENGKAU berikan akal
tapi DIA tak pernah meninggalkanku sendirian mengahadapi kesulitan, masalah, bahaya dan dengan akal yg KAU berikan...
baru kusadari dalam kesulitan aku semakin kuat,
baru kumengerti, kebijaksanaanku bertambah, tiap kali kulalui masalah,
baru kupahami, aku semakin berani setelah kulewati bahaya,
baru ku tau dengan akal yang ENGKAU beri aku semakin damai sejahtera
Engkau tidak pernah memberikan apa yang kuminta, tapi ENGKAU sediakan apapun yang kuperlukan, asalkan aku selalu berharap dan tetap setia padaMU.
Terima Kasih TUHAN... ENGKAU sungguh baik dan teramat baik buatku.
ILIR - ILIR
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon, bocah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penek'en
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Bait-bait di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi disawah yang menghijau, diterpa oleh tiupan angin yang menggoyangkan nya dengan semilir nan lembut sehingga menarik mata untuk memandangnya.
Pengantin baru yang dimaksud adalah usia muda yang masih segar, dan sehat yang digambarkan padi yang masih hijau bukan padi yang sudah kuning. Jadi ini adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk bekerja keras serta berkarya. Bocah angon (anak gembala),panjatlah buah belimbing itu.
Panjatlah meskipun pohonnya licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu. Buah belimbing yang bergigir lima itu melambangkan kerukunan dan intisari dari buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental manusia. Ini harus kita upayakan betapapun sulitnya rintangan dan hambatan yang kita hadapi.Memang apabila kita hendak menegakkan kebenaran pastilah rintangan dan hambatan selalu ada didepan kita. (Sepiroa gedening sengsara yen tinampa amung dadi coba). Seberat apapun kesengsaraan, kenistaan, kesusahan dalam hidup ini kalau kita terima dengan pasrah hanyalah merupakan cobaan hidup belaka.
Bocah angon diibaratkan sebagai anak remaja yang masih polos, lugu dan masih dalam tahap awal dari perkembangan mental dan fisiknya. Memang bagi orang Jawa sering mengkonotasikan bocah angon sama dengan usia remaja (karena masih disebut bocah, dan biasanya penggembala hewan sebagian besar adalah anak-anak). Namun pengertian penggembala dapat menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan dari ketua RT
sampai pimpinan negara. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani. Demikianlah seharusnya pemimpin bertindak sebagai suri tauladan bagi masyarakatnya. Pakaianmu tertiup angin berkibar-kibar, robek-robek di pinggirnya. Maka jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk bersujud pada-Nya. "Sebo" (Paseban adalah tempat/ruangan raja yang digunakan untuk rakyatnya menghadap/sowan) adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan 'sowan' atau menghadap raja atau pembesar.
Pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita dalam kesehariannya yang kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapan Sang Khalik (Sing sapa nandur bakal ngundhuh => Siapa yang menanam dia yang akan menuai). Mengko sore (nanti sore) adalah ibarat waktu senja dalam kehidupan, yaitu menjelang akhir menghadapi kematian kita.
Ajining diri gumantung ing lati, ajining raga gumantung ing busana. ==> Pergunakan terangnya cahaya, jangan menunggu sampai kegelapan tiba. Pergunakan keluasan kesempatan yang masih tersisa, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit dan tak bermakna.
Belajar dari seorang Nelayan
per jam disepakati, keduanya melaut tidak jauh dari bibir pantai. Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawan
bertanya: "Apa bapak pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin dan matahari?"
"Tidak" jawab nelayan itu singkat.
Cendekiawan melanjutkan " Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat peluang kehidupan Bapak"
Nelayan cuma mengangguk-angguk membisu.
"APa bapak pernah belajar sejarah filsafat?" tanya cendikiawan.
"Belum pernah" jawab nelayan itu singkat sambil menggeleng-gelengka n kepalanya.
Cendekiawan melanjutkan " Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat lagi peluang kehidupan Bapak". Si Nelayan kembali cuma mengangguk-angguk
membisu.
"APa bapak pernah belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing?" tanya cendikiawan.
"Tidak bisa" jawab nelayan itu singkat.
"Aduh, jika demikian bapak total telah kehilangan tigaperempat peluang kehidupan Bapak"
Tiba-tiba... ..
Angin kencang bertiup keras dari tengah laut. Perahu yang mereka tumpangi pun oleng hampir terguling. Dengan tenang Nelayan bertanya kepada cendekiawan
" Apa bapak pernah belajar berenang?"
Dengan suara gemetar dan muka pucat ketakutan, orang itu menjawab "Tidak pernah"
Nelayanpun memberi komentar dengan percaya diri "Ah, jika demikian, bapak telah kehilangan semua pe luang hidup bapak"...... ......... ......... ......... .
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas:
list of 3 items
• Jangan meninggikan diri lebih hebat dari orang lain
• Jangan sombong, sebab akan direndahkan Tuhan
• Kita semua memiliki keterbatasan dan memerlukan orang lain.
