. . : : Selamat Datang di Blog Saya, Terima Kasih Atas Kunjungannya : : . .
Ini adalah kebahagiaan terbesar bagi saya

Rabu, 25 Agustus 2010

Cerita Kasih Sang Malaikat Kecil

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran. Berapa lama lagi kamu baca koran

itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh

koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air

matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi

khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang

baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno,

mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan

beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan

ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “boleh ayah akan saya makan curd

rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya

akan minta” agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua

nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab “oh pasti, sayang.”

Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah ?”

“Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai

tanda setuju.”

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu

yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir

dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena

ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian

Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad

menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku

yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan

semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau

kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan

gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi

dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak

kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih

melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada

keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu

tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.

Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya

menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan

saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah

mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang

apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk

memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya

sendiri.

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus

ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak,

jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana

menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala

botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke

kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian

tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu tolong tunggu

saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.

Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya

seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak

laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita

kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu

Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak

jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah

Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi

ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau

mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh

diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang

kasih.....

Tidak ada komentar: