. . : : Selamat Datang di Blog Saya, Terima Kasih Atas Kunjungannya : : . .
Ini adalah kebahagiaan terbesar bagi saya

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tawon dan Elang

Di pagi yang cerah, di antara rindangnya pepohonan, tampak seekor burung elang sedang bermalas-malasan beristirahat di dahan sebatang pohon. Selama beberapa hari burung elang berulang kali hinggap di dahan pohon yang sama karena tertarik mengamati kegiatan segerombolan tawon (lebah) yang terlihat sibuk bekerja bersama-sama membuat sarang yang berjuntai di dahan sebatang pohon.

Tampak seekor tawon sebentar terbang hinggap di antara bunga-bunga hutan yang mekar, mengisap sari madu, dan terbang kembali ke dahan memberikan sari madu ke sarangnya, dan begitu seterusnya. Burung elang dengan tidak sabar menegur seekor tawon yang sedang terbang di dekatnya, "Hai tawon kecil, kamu sibuk terbang dari satu bunga ke tempat sarangmu, memangnya apa yang sedang kamu kerjakan?"

Tawon pun menjawab: "Aku dan kawan-kawan sedang membuat sarang."

"Untuk apa kalian repot membuat sarang sebesar itu? Umur tawon kansangat pendek. Sudahlah...,tidak perlu susah-susah bekerja! Santai-santai saja dan nikmati kehidupanmu yang singkat itu."Demikian burung elang menasihati si tawon.

"Umurku memang tidak sepanjang umurmu burung elang. Tapi justru karena pendeknya waktu yang aku punya, aku tidak boleh menyia-nyiakan nya. Aku harus bekerja giat dan lebih rajin agar sarang kami bisa selesai sesingkat umur kami," jawab tawon.

"Untuk apa sarangmu harus diselesaikan cepat-cepat, toh kamu akan segera mati," elang menanggapi dengan cepat. "Maka, kamu pun tidak bisa menikmati sarang yang telah dibuat dengan susah payah,"

"Hahaha, tuan elang yang gagah dan berumur panjang, kasihan sekali caramu berpikir.Justru umur kami yang singkat inilah yang harus kami hargai dengan sungguh-sungguh. Kami memang makhluk kecil dan berumur pendek tetapi kami bangga dan bahagia karena bisa berarti bagi makhluk lain yaitu dengan memberi semua hasil kerja keras yang telah dilakukan seumur hidup kami. Itulah arti keberadaan kami," pungkas tawon kecil sambil terbang berlalu.

Mendengar ucapan tawon kecil, si burung elang terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata lagi dan bersombong diri. Ternyata di balik penampilan makhluk yang kecil dan berumur pendek, kehidupan mereka pun memiliki arti tersendiri.

---

Seberapa pun panjang dan pendeknya sebuah kehidupan, itu adalah misteri alam yang maha kuasa.Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Tetapi jika di setiap penggal waktu yang kita punya, kita punya dedikasi untukmelakukan yang terbaik serta mampu bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, apalagijuga bermanfaat bagi orang lain, niscaya tiap tiap hari yang kita jalani adalah hari yang penuh gairah

Kau sanggup membuatku tersenyum

Hujan gerimis kembali mengguyur Jakarta pagi itu. Seperti biasa, aku melangkahkan kakiku menuju kantor. "Hhh..." aku mendesah malas. Pagi itu rasanya malas sekali tuk berangkat kerja. Sudah bangun kesiangan, ditambah hujan. "Hmm.. Coba kalau libur, bisa gak keluar deh dari kamar."

Baru saja aku turun dari metromini, dan dengan malas kulangkahkan kakiku di depan Pakubuwono Residence. Hujan gerimis seakan begitu mengerti kemalasanku pagi ini. Di balik blazer coklat tebalku, aku berlindung dari rintik hujan yang masih setia menemani langkahku.

Beberapa saat kemudian, bis yang kutunggu pun datang menghampiriku. Bersyukur masih ada kursi yang belum terisi. Segera kuayunkan kakiku menuju bangku itu. Bus pun melaju perlahan. Tak kuhiraukan pemandangan di kanan kiriku, aku sedang asyik menikmati rintik hujan yang menyirami dedaunan, seakan tersenyum dan menari mengajakku tertawa menyambut pagi.

Tiba-tiba sudut mataku menangkap sesosok kecil meraih pinggiran pintu bus yang sedang melaju. Kualihkan pandanganku ke arah pintu bus yang kutumpangi, aku melihat sosok kecil berdiri terhuyung mengikuti laju bus kota ini. Sesaat kutatap wajah mungil itu, memakai kaos oblong dan celana putih dengan gambar Doraemon di depannya, plus sepatu kets belel, lengkap dengan gitar kecil di tangannya.

Wajah itu nampak tersenyum ceria, tak peduli laju bus yang sering menghentakkan tubuh mungilnya. Sosok kecil itu mulai bernyanyi membawakan lagu Pecinta Wanita-nya Irwansyah yang sedang hit itu. Dengan gaya pedenya, sosok kecil itu seakan merasa menjadi sang penyanyi yang sedang menghibur para penggemarnya. Bahkan dia pun tak terganggu dengan penumpang yang turun naik, dia begitu menghayati lagu yang dinyanyikannya. Tak sadar aku tersenyum-senyum melihat gayanya yang lucu.

Aku memang pecinta wanita, tapi ku bukan buaya, yang setia pada selibu gadis ku hanya mencintai dia
Aku memang pecinta wanita yang lembut seperti dia
Lagu itu mengalir dengan mulus dari mulut mungil itu. Bukan syair lagu itu yang aku suka, tapi wajah polos seakan tanpa dosa dan tanpa beban sedikit pun. Kulihat wajah itu begitu ceria, dalam hati kuberharap dia menyanyikan satu lagu lagi, tapi harapku berakhir saat dia melangkah menghampiri para penumpang dengan kantong plastik butut di tangannya. Ingin sekali aku bisa bercerita dengan sosok itu, tapi dia cepat berlalu dan aku hanya bisa menatap langkah kaki mungilnya meninggalkan bus kota yang aku tumpangi.

Seiring langkah kaki kecil yang menghilang di ujung jalan, aku merenung, mengapa aku harus sejutek ini pagi ini, mengapa aku harus bermalas-malasan, bahkan aku enggan tersenyum dengan sahabat-sahabatku di kost saat mau berangkat tadi. Bocah kecil itu seakan menyadarkan aku betapa berartinya semangat dalam hidup ini.

Benar bahwa bocah itu tak tahu banyak tentang mimpi, tak tahu banyak tentang masalah, tapi aku yakin, bocah itu tahu banyak tentang pahitnya hidup di jalanan, bocah itu juga banyak belajar tentang kerasnya hidup sebagai penyanyi jalanan, bocah itu pun juga harus mengesampingkan egonya tuk bisa bermain bersama teman-temannya, tuk menikmati indahnya masa sekolah, tuk bisa duduk manis di depan TV bersama orangtuanya, tuk bisa bercanda ria dengan kakak-kakaknya.

Dia begitu tegar, bahkan tak terlihat sedikit pun kesedihan di wajahnya, bukan karena dia tak punya keinginan, bukan karena dia tak punya mimpi, tapi karena dia sanggup menghadapi kenyataan hidupnya, dia sanggup menjalani hari ini penuh dengan senyuman, bahkan sanggup membuatku tersenyum bahagia.
ya Tuhan, betapa bodohnya aku. Apa yang bisa kulakukan dengan kemalasanku? Apa yang bisa kulakukan dengan kerapuhanku? Bocah itu telah mengajarkan aku, betapa dia yang begitu polos mampu membahagiakan orang lain, betapa dia yang masih begitu muda sanggup menahan kesedihan dirinya, lalu apa yang telah aku lakukan? Manfaat apa yang telah aku tebarkan? Kebaikan apa yang telah aku lakukan? Nothing! Ternyata, aku hanya sosok yang rapuh dan cengeng, aku hanya sosok yang egois yang tak peduli dengan lingkunganku.

ya Tuhan, terima kasih kau telah pertemukan aku dengan sosok kecil itu yang sanggup mengukir senyum bahagia di wajahku pagi itu. Aku tahu kesedihan yang disimpannya, aku tahu keras kehidupan yang dilalui bersama puluhan anak jalanan lainnya. Jika kelak aku tak sanggup membuat mereka tersenyum, maka jangan biarkan aku tertawa di atas kesedihan mereka. Jika aku tak sanggup mengulurkan tanganku tuk meraih mereka, jangan biarkan aku membuat luka di hati mereka.

Tuhan, maafkan aku yang bodoh, sayangi mereka yang tak sanggup kurengkuh, lindungi mereka yang tak bisa kuraih. Maafkan diri ini yang mungkin banyak melukai hamba-hambaMu, yang tak sanggup memeluk mereka saat mereka terluka, yang tak sanggup membuat mereka tersenyum saat mereka menangis.

Belajar Ikhlas

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus.Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga,salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan.

Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak dengan cepat, sehingga ia tidak mungkin ia bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisamemanfaatkannya."

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup -jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya ataukarena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadidalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-haljelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu danmendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskansesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisamendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

" Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu gelandangan yang membutuhkan. "

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik.Mungkin memang pedih pada awalnya... mungkin butuh bulan berbilang tahun untuk menyeka bening yang terkadang masih mengalir....

Namun kebahagiaan memang tak selamanya... dan kesedihan takkan mengembalikan apa yang telah berlalu...

Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalamhidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.

" Semoga kita bisa menjadi orang yg ikhlas yang tetap masih bisa memberikan senyum terindah kita pada dunia".

Kamis, 14 Oktober 2010

DOA DAN PINTA KU

"Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.

Allah menjawab, Tidak.
Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.

Allah menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.

Allah menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.

Allah menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.

Allah menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.

Allah menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal

Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.

Allah menjawab.., akhirnya kau mengerti.

HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN. Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang, Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya."