. . : : Selamat Datang di Blog Saya, Terima Kasih Atas Kunjungannya : : . .
Ini adalah kebahagiaan terbesar bagi saya

Selasa, 23 November 2010

Sayap Yang Kerdil

Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.

Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.

Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”

Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.

Minggu, 21 November 2010

Lampu merah dan kesedihan nya

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack
segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu
perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup
lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati
Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter
menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia
berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem
mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia
melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai, Jack.” Tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan
anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh
terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu
merah di persimpangan ini.”

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta
sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa
saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan
penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup
untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa
ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru
Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

“Halo Jack,
Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia
sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu
dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah
tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu
juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.
Bob”

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob
sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia
mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya
dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa
jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati.

Tentukan nilai anda

Pernahkah anda mendengar kisah seorang petani yang keledainya jatuh ke dalam sumur kering? Petani tersebut sudah berusaha untuk mengeluarkan keledainya tersebut, tetapi karena semua usahanya gagal akhirnya ia menyerah dan ia memutuskan untuk mengubur keledainya di sumur itu. Namun sang keledai memiliki gagasan lain. Mula-mula, saat sesekop tanah mulai mengenai punggungnya, keledai itu mulai histeris. Namun tiba-tiba ada sebuah pemikiran yang muncul, ”Aku hanya perlu mengibaskannya dan menapak pada tanah itu.” Ia pun melakukannnya.

Waktu demi waktu berlalu, saat tanah menimpa tubuhnya, keledai itu terus berkata pada dirinya, ”Aku hanya perlu mengibaskannya dan menapak pada tanah itu.” Betapapun banyaknya tanah yang ditimpakan ke atas tubuhnya, ia terus menerus mengibaskannya dan menapak di atasnya, sampai sumur itu penuh dengan tanah dan sang keledai keluar dengan penuh kemenangan.

---

Ada pesan moral yang sangat bagus dari illustrasi ini. Hidup bisa mengubur atau memberkati kita, perbedaannya terletak pada sikap hati kita. Dunia ini penuh dengan orang yang suka mengkritik untuk menjatuhkan, menggosip untuk mencari kekurangan orang lain, dan juga membanding-bandingkan dengan standar keduniawian. Ada kalanya orang-orang “melemparkan tanah” kearah kita, tetapi jangan panik, kibaskan saja “tanah” itu, dan menapaklah diatasnya.

Jadikan kritikan sebagai batu loncatan. Jadikan tatapan yang meremehkan sebagai motivasi. Jika harus menerima kata-kata negatif, lihatlah hal-hal positif yang mungkin saja terselip. Semua orang berhak melempar tanah kepada kita, namun kita bisa memilih untuk mengibaskan dan menapak diatasnya.

Orang-orang akan mengambil sesuatu dari kita tanpa mengembalikan, mereka akan mengkritik kita dalam segala hal, mereka tidak menghargai setiap usaha kita dan lain sebagainya, jadi bersiaplah. Gunakan tanah itu sebagai pupuk dan bertumbuhlah lebih kuat. Eleanor Roosevelt pernah berkata,”Tak seorang pun dapat membuat Anda rendah diri tanpa persetujuan Anda.” Kita hidup bukan dari apa yang orang lain katakan, tetapi dari apa yang Tuhan katakan tentang diri kita.
Terimalah hal-hal negatif yang terjadi pada diri Anda dan ubahlah itu menjadi kekuatan positif.

Sabtu, 13 November 2010

Wanita Sempurna

Ini kisah perjumpaaan dua orang sehabat yang sudah puluhan tahun berpisah. Mereka kangen2an, ngobrol santai sambil minum kopi di sebuah cafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal2 nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini. "Ngomong2, mengapa sampai sekarang kamu belum menikah?" ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih membujang. "Sejujurnya sampai saat ini saya masih terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang.

Dulu waktu saya di Bandung, saya berjumpa dengan wanita yang cantik yang amat pintar. Saya pikir inilah wanita ideal saya dan cocok menjadi istri saya. Namun belakangan di masa pacaran ketahuan dia amat sombong. Hubungan kami putus sampai disitu.

Di Yogyakarta saya ketemu seorang perempuan yang cantik jelita, ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.

Dan ketika aku di Jakarta, aku ketemu wanita yang manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan apalagi bila diajak berbicara, selalu nyambung dan penuh humor. Tapi terakhir aku ketahui kalau dia dari keluarga yang berantakan dan selalu menuntut. Akhirnya kami berpisah.

Saya terus mencari, namun selalu mendapatkan kekurangan dan kelemahan pada wanita yang saya taksir.

Sampai pada suatu hari, saya berjumpa dengan wanita ideal yang saya dambakan selama ini. Ia begitu cantik, pintar, baik hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan sayang kepada orang lain. Saya pikir inilah pendamping hidup saya yang dikirim oleh Tuhan untuk saya".

"Lantas…", sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan "Apa yang terjadi? Mengapa kamu tidak langsung meminangnya?".

Yang ditanya diam sejenak dan akhirnya dengan suara lirih si bujangan itu menjawab, "Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna".


NB: So, udah tahu donk maksud dari cerita ini ? .... Nobody's perfect.

Jumat, 12 November 2010

Kue Pernikahan

Bahan :
1 lelaki sehat,
1 perempuan sehat,
100% komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni

Bumbu :
1 potong besar humor,
25 gr rekreasi,
1 bungkus doa,
2 sdt saling menelpon,
5 kali ibadah/hari
(Semuanya di aduk hingga merata dan mengembang)

Cara Memasak :
1. laki-laki dan perempuan dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
2. siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
3. masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit di depan penghulu.
4. biarkan didlam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.

Tips Memasak :
1. pilih lelaki dan perempuan yang benar2 matang dan seimbang.
2. jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat peqarna yang bisa merusak kesehatan.
3. gunakan kasih sayang yang telah mendpatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.


Catatan :
Kue ini dapat dinikmati pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalo sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerk "Tempat Ibadah". Setelah mulai hangat, jangan lupa telpon-telponan bila berjauhan. Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!!!!

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya”

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.

Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.

Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew.

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.

Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata . Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

“Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya”

Untuk yang sudah pernah baca, Sekedar untuk mengingatkan kembali……..

Pesan Dari Ayah

*Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik.
Sebelum meninggal, ayah mereka
berpesan dua hal :

- Jangan menagih hutang kepada orang
yang berhutang kepadamu

- Jika mereka pergi dari rumah ke toko
jangan sampai mukanya terkena sinar
matahari.



Waktu berjalan terus.
Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa
tahun setelah ayahnya meninggal anak
yang sulung bertambah kaya sedang yang
bungsu menjadi semakin miskin.


Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka

Jawab anak yang bungsu :
Inilah karena saya mengikuti pesan
ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak
boleh menagih hutang kepada orang yang
berhutang kepadaku, dan sebagai
akibatnya modalku susut karena orang
yang berhutang kepadaku tidak membayar
sementara aku tidak boleh menagih.
Juga ayah berpesan supaya kalau saya
pergi atau pulang dari rumah ke toko
dan sebaliknya tidak boleh terkena
sinar matahari.
Akibatnya saya harus naik becak atau
andong.
Sebetulnya dengan jalan kaki saja
cukup, tetapi karena pesan ayah
demikian maka akibatnya pengeluaranku
bertambah banyak.


Kepada anak yang sulung yang bertambah
kaya, sang ibupun bertanya hal yang
sama.


Jawab anak sulung :
Ini semua adalah karena saya mentaati
pesan ayah.
Karena ayah berpesan supaya saya tidak
menagih kepada orang yang berhutang
kepada saya, maka saya tidak
menghutangkan sehingga dengan demikian
modal tidak susut.
Juga ayah berpesan agar supaya jika
saya berangkat ke toko atau pulang
dari toko tidak boleh terkena sinar
matahari, maka saya berangkat ke toko
sebelum matahari terbit dan pulang
sesudah matahari terbenam.
Akibatnya toko saya buka sebelum toko
lain buka, dan tutup jauh sesudah toko
yang lain tutup.
Sehingga karena kebiasaan itu, orang
menjadi tahu dan tokoku menjadi laris,
karena mempunyai jam kerja lebih lama.

Bagaimana dengan anda ?

Kisah diatas menunjukkan bagaimana
sebuah kalimat di tanggapi dengan
presepsi yang berbeda, jika kita
melihat dengan "_POSITIF ATTITUDE_" maka
segala kesulitan sebenarnya adalah
sebuah perjalanan membuat kita sukses
tetapi kita bisa juga terhanyut dengan
adanya kesulitan karena rutinitas
kita ..

Pilihan ada di tangan kita....

Selasa, 09 November 2010

Mengapa Lelaki Suka Berbohong?

Suatu hari, ketika sedang menebang pohon, seorang penebang kayu
kehilangan kapaknya karena jatuh ke sungai. Lalu dia menangis dan
berdoa, sehingga Dewa muncul. "Mengapa kamu menangis?" Si penebang
kayu sambil terisak menceritakan bahwa kapak sebagai sumber
penghasilan satu-satunya telah jatuh ke sungai.

Lalu Dewa menghilang dan muncul kembali membawa kapak emas.
"Apakah ini kapakmu?"
"Bukan, Dewa "
Lalu Dewa muncul kembali membawa kapak perak.
"Apakah ini kapakmu?"
"Bukan, Dewa "
Lalu Dewa mengeluarkan sebuah kapak yang jelek dengan pegangan kayu
dan mata besi
"Apakah ini kapakmu?"
"Ya, Dewa, benar ini kapak saya".
"Kamu orang jujur, karena itu Aku akan memberikan ketiga kapak ini
untukmu sebagai upah kejujuranmu".

Lelaki itu sangat bersyukur dan pulang dengan gembira. Beberapa hari
kemudian ketika sedang menyeberang sungai, istrinya terjatuh dan
hanyut.

Lagi, si penebang kayu menangis dan berdoa. Kemudian Dewa muncul.

"Mengapa kamu menangis?" "Istri saya satu-satunya yang sangat saya
cintai terjatuh ke sungai, Dewa" Lalu Dewa menghilang ke dalam
sungai dan muncul kembali dengan membawa Jennifer Lopez "Apakah ini
istrimu?". "Ya, Dewa".
Lalu Dewa marah dan berkata "Kamu berbohong, kemana perginya
kejujuranmu?"

Lelaki itu dengan takut dan gemetar berkata, "Dewa, seandainya saya
tadi menjawab tidak, Dewa akan kembali dengan membawa Britney
Spears, dan jika saat itu saya juga menjawab tidak, Dewa akan
kembali membawa istri saya yang asli, dan jika ketika itu saya
menjawab iya, Dewa akan memberikan ketiganya untuk menjadi istri
saya. Saya ini orang miskin, Dewa, tidak mungkin saya bisa
membahagiakan tiga orang istri....."


Moral of the story: Lelaki berbohong itu demi kebahagiaan orang
lain...