. . : : Selamat Datang di Blog Saya, Terima Kasih Atas Kunjungannya : : . .
Ini adalah kebahagiaan terbesar bagi saya

Sabtu, 06 Agustus 2011

Lingkungan kita menentukan nilai diri kita

Ada 3 kaleng coca cola,ke-3 kaleng tsb diproduksi di satu pabrik. Ketika tiba harinya, sebuah truck datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ketempat yang berbeda untuk pendistribusian. Pemberhentian pertama adalah supermarket lokal. Kaleng coca cola pertama diturunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya yang di beri harga Rp.4000,-
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Disana kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan didalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp.7500,-
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang lima yg sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan disana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau didalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika ada yg pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dgn gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan diatas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya kedalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp.40.000,-
Sekarang pertanyaannya adalah = mengapa ketiga kaleng tsb memiliki harga yg berbeda padahal diproduksi dipabrik yg sama, diantar dgn truck yg sama, dan bahkan mereka memiliki rasa yg sama ?
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.
Lingkungan berbicara tentang “RELATIONSHIP“
Apabila Anda berada dilingkungan yg bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda , maka Anda akan menjadi Cemerlang.
Tapi bila Anda berada dilingkungan yg buruk yg dapat mengkerdilkan diri Anda , maka Anda akan menjadi kerdil.
Orang yg sama , bakat yg sama , kemampuan yg sama plus lingkungan yg berbeda = NILAI YANG BERBEDA.
Maka jadilah “coca cola“ yg terbaik dalam kehidupan masing masing

Psikologi Kodok

Peter Senge bercerita dalam bukunya “The Fifth Discipline” tentang seekor kodok. Syahdan, kodok
mempunyai psikologi yang menarik. Apabila seekor kodok dimasukkan dalam panci berisi air mendidih
maka dia akan refleks melompat keluar dari panci itu. Tapi apabila anda memasukkan kodok dalam panci
biasa. Kemudian, anda taruh panci itu diatas kompor dan panaskan dengan api yang kecil sekali. Sehingga,
air dengan sangat perlahan memanas. Kodok tidak akan melompat keluar dari panci itu. Bahkan, sampai
mati di dalam panci!
Mengapa? Kodok itu gagal menangkap sinyal perubahan suhu air yang merambat perlahan. Kodok merasa
seolah
olah tetab berada pada air dengan suhu standar. Sampai suatu titik hingga semuanya telah
terlambat. Mati!
Apa yang bisa kita pelajari dari Psikologi Kodok?
Psikologi kodok digunakan oleh Senge untuk melukiskan kegagalan organisasi pembelajaran. Kita
cenderung menikmati area nyaman saat ini sehingga biasa mengabaikan sinyal
sinyal perubahan kecil
yang ada dalam organisasi maupun lingkungan eksternal organisasi kita.
Kekeliruan
keliruan kecil dibiarkan sehingga menjadi kebiasaan dan tradisi yang kemudian menentukan
nasib seluruh organisasi. Kita membiarkan keluhan
keluhan kecil pelanggan sehingga membentuk citra
negatif organisasi. Kita tersadar nanti setelah angka penjualan kita merosot. Kita abaikan perlakuan buruk
kepada karyawan, seperti mendikte ide, tidak mengapresiasi kerja bawahan, dan kita baru tersadar
setelah karyawan itu pindah ke perusahaan lain.
Begitu juga dengan negara ini. Kita abaikan kasus
kasus kecil, pelanggaranpelanggaran kecil sehingga
membentuk budaya korupsi. Korupsi hanya disikapi dengan cara
cara standar. Seumpama kodok hanya
menggeserkan tubuh tapi tetap dalam panci itu. Tidak ada lompatan keluar dari panci yang mulai
memanas airnya. Sampai nanti terlambat bagi kita semua untuk melompat.
Apakah anda pernah mengalami kejadian Psikologi Kodok?