. . : : Selamat Datang di Blog Saya, Terima Kasih Atas Kunjungannya : : . .
Ini adalah kebahagiaan terbesar bagi saya

Sabtu, 10 Desember 2011

Bunuh Diri

Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”

Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustad.

“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustad.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”

“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”

Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini ”.

Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini……

Kaki Seribu

Hewan berkaki seribu :
berjalan lambat dan bergerak pelan.
Kangguru : berkaki empat, berjalan dengan 2 kaki belakang ,
tetapi lompatan langkahnya lebih cepat dari yang lainnya.
Sama seperti hidup :
Terkadang kita tak perlu memerlukan banyak tangan dan kaki,
untuk success bergerak cepat,
TERPENTING lompatan - lompatan baik, jitu dan terarah,
akan menuju kecepatan untuk sebuah keberhasilan
lompatan - lompatan baik, jitu dan terarah, ...
akan menuju kecepatan untuk sebuah keberhasilan
 

Belajar Iklas

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga,salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan.

Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak dengan cepat, sehingga ia tidak mungkin bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, "Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?" Si bapak tua menjawab, "Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

---------
Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup -jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

-----------
Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

" Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu gelandangan yang membutuhkan. "

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Mungkin memang pedih pada awalnya... mungkin butuh bulan berbilang tahun untuk menyeka bening yang terkadang masih mengalir....

Namun kebahagiaan memang tak selamanya... dan kesedihan takkan mengembalikan apa yang telah berlalu...

=======
Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalamhidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.
=======
" Semoga kita bisa menjadi orang yg ikhlas yang tetap masih bisa memberikan senyum terindah kita pada dunia".

Kisah Monyet Dan Angin......



Seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede. Angin Topan, Tornado sama Bahorok.

Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.

Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado nggak ♏åϋ kalah, 30 detik, katanya.

Angin Bahorok senyum ngeledek äπϑ bilang, 15 detik juga jatuh tuh monyet.

Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju.
Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss… Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatnya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.

Giliran Angin TORNADO.
Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado jg nyerah.

Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup.
Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh.

Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.

Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Keinginan îτϋ diketawain sama tiga angin lainnya. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.

Nggak banyak omong, angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia trus lepas lah pegangannya. Alhasil, jatuh deh tuh si monyet.
Guys, boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN…
Dicoba dengan Penderitaan… Didera Malapetaka... Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya...

Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN... KESENANGAN... KELIMPAHAN... Disinilah kejatuhan îτϋ terjadi. So, Jangan sampai kita terlena... Tetap rendah hati dan mawas diri, ingat kita hanya hidup sementara di dunia ini.

Cara berprasangka baik (Husnudzan)

Cara berprasangka baik (Husnudzan) ♥

~Jika engkau bertemu Seseorang,Maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu,Ucapkan dalam hatimu:
"Bisa Jadi Kedudukannya disisi ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA,Jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku"..

~Jika bertemu anak Kecil,Maka Ucapkanlah (dalam hatimu)..
"Anak ini belum bermaksiat Kepada ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA,Sedangkan diriku telah banyak bermaksiat Kepada~Nya,Tentu anak ini Jauh lebih baik dariku"..

~Jika bertemu dengan Orang Tua,Maka Ucapkanlah (dalam hatimu)..
"dia telah beribadah Kepada ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA,Jauh lebih lama dariku,Tentu dia lebih baik dariku"..

~Jika bertemu dengan Seorang berilmu,Maka Ucapkanlah (dalam hatimu)..
"Orang ini Memperoleh Karunia yg tidak akan ku peroleh,Mencapai Kedudukan yg ti akan pernah ku capai,Mengetahui apa yg tidak ku ketahui,dan dia Mengamalkan Ilmunya,Tentu dia lebih baik dariku"..

~Jika bertemu dengan Seorang yg bodoh,Maka Ucapkanlah (dalam hatimu)..
"Orang ini bermaksiat Kepada ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA,Karena dia bodoh(Tidak tahu),Sedangkan Aku bermaksiat Kepada~Nya,Padahal Aku Mengetahui Akibatnya..

Dan Aku Tdk tahu bagaimana Akhir Umurku dan Umurnya Kelak,dia tentu lebih baik dariku..

~Jika bertemu dengan Orang Kafir,Maka Ucapkanlah (dalam hatimu)
"Aku tidak tahu,bagaimana Keadaannya Kelak,bisa jadi diakhir Usianya,dia Memeluk Agama Islam dan beramal Sholeh,dan bisa jadi diakhir Usia diriku Kufur dan berbuat buruk"..

(Nasehat:Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)

Yaa ALLAH..
Sesungguhnya Aku berlindung Kepada~Mu..
Dari Akhlak,Amal Perbuatan dan Keinginan(hawa nafsu)yang Cenderung Ingkar(Tercelah)..

Amiin.. Amiin... Yaa robbal Alamin..

Mbah Sarno Tukang sol

cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda tuanya
menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup. Mbah sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa ...sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“wah mas gak ada uang pas ya?”

“nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”

“waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”
 jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan dapat gantinya.”

ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”

selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“tapi ini terlalu banyak mas”

“saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Sebuah renungan :


pd suatu hari ada seorg Ibu yg baru pulang dari pasar melihat ada 3 org berjanggut di halaman rumahnya. Ketiga pria itu terlihat letih dan lapar. Ibu itu mengajak mereka masuk untuk makan, tapi mereka bertanya, "apakah suamimu sdh pulang ?" "Belum" jawab Ibu itu.
"Kalau begitu kami tdk bsa masuk.". Ketika suaminya pulang, Ibu itu menceritakan tentang ketiga org tsb, dan suaminya mnyuruhnya mengajak ketiga org itu utk masuk. Ketika ia menyuruh mereka masuk, salah seorang berjanggut itu berkata: "Yg itu bernama Kekayaan, yg itu Kesuksesan dan saya Cinta. Kalian hrs memilih salah satu dari kami utk masuk ke dlm rumahmu, kami tdk bisa masuk bersama-sama."
Ibu itu masuk ke dlm dan menceritakan apa yg dikatakan org itu, suaminya berkata: "suruh Kekayaan masuk, saya ingin rumah ini penuh dgn Kekayaan."
Tapi Ibu itu berkata: "lebih baik Kesuksesan, biar semua pekerjaan kita slalu penuh dgn Kesuksesan."
Anak2 mereka berkata: "lebih baik Cinta, biar rumah ini selalu penuh dgn Cinta,"
Akhirnya semua setuju utk mengajak Cinta masuk, Ibu itu kembali ke depan dan berkata, "yang bernama Cinta silahkan masuk."
Ketika org yg bernama Cinta berjln masuk, kedua org yang lain mengikutinya.
Si Ibu heran dan berkata, "kami hanya mengundang Cinta, knapa kalian ikut?"
Org itu berkata, "Kalau Ibu memilih Kekayaan atau Kesuksesan, kami hanya bisa berjln sendiri2. Tapi krn Ibu memilih CINTA, kami berdua akan selalu mengikutinya kemanapun dia berjalan. Sebenarnya kami berdua ini buta, hanya Cinta yg bisa melihat dan menuntun kami kemanapun dan kapanpun juga....

"RENUNGAN" Jalani hidup ini dgn cinta..."Dan bersyukur kita masih berada diantara orang2 yg mencintai kita.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Lingkungan kita menentukan nilai diri kita

Ada 3 kaleng coca cola,ke-3 kaleng tsb diproduksi di satu pabrik. Ketika tiba harinya, sebuah truck datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ketempat yang berbeda untuk pendistribusian. Pemberhentian pertama adalah supermarket lokal. Kaleng coca cola pertama diturunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya yang di beri harga Rp.4000,-
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Disana kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan didalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp.7500,-
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang lima yg sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan disana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau didalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika ada yg pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dgn gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan diatas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya kedalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp.40.000,-
Sekarang pertanyaannya adalah = mengapa ketiga kaleng tsb memiliki harga yg berbeda padahal diproduksi dipabrik yg sama, diantar dgn truck yg sama, dan bahkan mereka memiliki rasa yg sama ?
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.
Lingkungan berbicara tentang “RELATIONSHIP“
Apabila Anda berada dilingkungan yg bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda , maka Anda akan menjadi Cemerlang.
Tapi bila Anda berada dilingkungan yg buruk yg dapat mengkerdilkan diri Anda , maka Anda akan menjadi kerdil.
Orang yg sama , bakat yg sama , kemampuan yg sama plus lingkungan yg berbeda = NILAI YANG BERBEDA.
Maka jadilah “coca cola“ yg terbaik dalam kehidupan masing masing

Psikologi Kodok

Peter Senge bercerita dalam bukunya “The Fifth Discipline” tentang seekor kodok. Syahdan, kodok
mempunyai psikologi yang menarik. Apabila seekor kodok dimasukkan dalam panci berisi air mendidih
maka dia akan refleks melompat keluar dari panci itu. Tapi apabila anda memasukkan kodok dalam panci
biasa. Kemudian, anda taruh panci itu diatas kompor dan panaskan dengan api yang kecil sekali. Sehingga,
air dengan sangat perlahan memanas. Kodok tidak akan melompat keluar dari panci itu. Bahkan, sampai
mati di dalam panci!
Mengapa? Kodok itu gagal menangkap sinyal perubahan suhu air yang merambat perlahan. Kodok merasa
seolah
olah tetab berada pada air dengan suhu standar. Sampai suatu titik hingga semuanya telah
terlambat. Mati!
Apa yang bisa kita pelajari dari Psikologi Kodok?
Psikologi kodok digunakan oleh Senge untuk melukiskan kegagalan organisasi pembelajaran. Kita
cenderung menikmati area nyaman saat ini sehingga biasa mengabaikan sinyal
sinyal perubahan kecil
yang ada dalam organisasi maupun lingkungan eksternal organisasi kita.
Kekeliruan
keliruan kecil dibiarkan sehingga menjadi kebiasaan dan tradisi yang kemudian menentukan
nasib seluruh organisasi. Kita membiarkan keluhan
keluhan kecil pelanggan sehingga membentuk citra
negatif organisasi. Kita tersadar nanti setelah angka penjualan kita merosot. Kita abaikan perlakuan buruk
kepada karyawan, seperti mendikte ide, tidak mengapresiasi kerja bawahan, dan kita baru tersadar
setelah karyawan itu pindah ke perusahaan lain.
Begitu juga dengan negara ini. Kita abaikan kasus
kasus kecil, pelanggaranpelanggaran kecil sehingga
membentuk budaya korupsi. Korupsi hanya disikapi dengan cara
cara standar. Seumpama kodok hanya
menggeserkan tubuh tapi tetap dalam panci itu. Tidak ada lompatan keluar dari panci yang mulai
memanas airnya. Sampai nanti terlambat bagi kita semua untuk melompat.
Apakah anda pernah mengalami kejadian Psikologi Kodok?

Minggu, 29 Mei 2011

Belajar Kepada Elang

 Elang merupakan jenis unggas yg mempunyai umur paling panjang di dunia, dapat mencapai 70 thn.
Tapi untuk mencapai umur itu seekor elang harus membuat keputusan besar pada umurnya yg ke 40

Saat umur 40 thn, cakarnya mulai menua, paruh me...njadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang. Saat itu, IA hanya mempunyai 2 pilihan:

1.    Menunggu kematian atau

2.    menjalani proses transformasi yg menyakitkan selama 150 Hari
Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung utk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.

Pertama-tama, IA hrs mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru.

Dengan paruh yang baru tumbuh itu,
IA harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya.
Dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu.
Suatu proses yg panjang dan menyakitkan.

5 bulan kemudian, bulu-bulu yang baru sudah tumbuh. Ia mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi

Dalam kehidupan, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yg BESAR untuk memulai sesuatu proses PEMBARUAN. Berani membuang kebiasaan-kebiasan lama yg mengikat dan melekat kuat, meskipun itu adalah sesuatu yg menyenangkan dan membuat kita terlena. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal baru, kita mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yg terpendam, mengasah keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan! Tantangan terbesar untuk berubah ada di dalam diri sendiri. Semoga bermanfaat.

Jumat, 01 April 2011

Burung, Sapi dan Kucing

Seekor burung terbang di tengah hujan salju yang lebat. Seluruh bulunya tertimpa salju, dan akhirnya dia kelelahan. Dia segera menukik turun dan meringkuk kedinginan di tengah sebuah area persawahan.

Tiba-tiba datanglah seekor sapi. Sapi itu melihat betapa kedinginannya burung itu, dan mendekatinya. Dia bertanya : "hai burung, maukah kamu aku bantu untuk menghilangkan rasa dingin ?" Burung itu menjawab : "ya, aku mau". Sapi itu kemudian memantati burung itu dan ... pletok. Keluarlah tai dari pantat sapi itu .... tepat di tubuh si burung. Dengan marah dan kaget burung itu berkata : "Gila, kamu bukan temanku, kenapa kamu mengirimkan tai kepadaku. Katanya kamu mau membantuku". Sapi itu mencoba menenangkan si burung, "sabar, tunggu sebentar". Burung itu memang merasakan tubuhnya jadi agak hangat oleh karena tai si sapi .... tapi karena marah dia tidak mau mendengar lagi ..... Dia mulai berjalan lagi.

Seekor kucing menghampiri sang burung. Dia juga menawarkan bantuan untuk menghangatkan tubuh sang burung. Maka burung itu berpikir : "kucing ini nampak baik, dan lebih terpelajar dari si sapi". Maka burung itu menerima tawaran dari kucing. Kucing segera maju. Tubuh sang burung dijilatinya ... dan burung itu merasa : "nah ini kawan sejati .... gak kaya sapi tadi yang kurang ajar .... sekarang tubuhku hangat dan bersih" ...... Namun baru saja burung itu berpikir ... tiba-tiba HAP ... tubuhnya telah diterkam oleh si kucing. Burung itu berakhir di perut si kucing.

----

Note :
Teguran keras seorang sahabat lebih baik daripada ciuman dan pujian musuh. Be careful in judging your friend

Sabtu, 22 Januari 2011

Kata kata kasar seorang IBU,.


Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
 "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya.
 Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda."
 Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.
 Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
 Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita
 memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.
 Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki
 saya berdiri diam-diam di samping saya.
 Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh.
 "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.
 Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika
 saya berbaring di tempat tidur,
 dengan halus Tuhan berbicara padaku,
 "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika
 kesopanan kamu gunakan,
 tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan
 sewenang-wenang.
 Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga
 dekat pintu."
 "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda,
 kuning dan biru.
 Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan
 ia buat bagimu,
 dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
 Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.
 Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat
 tidurnya "Bangun, nak,
 bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?"
 Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. "
 "Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
 Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
 Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
 Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
 Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
 Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar
 menyukai bunga-bunga ini,
 apalagi yang biru."
 Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana
 kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam
 hitungan hari?
 Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama
 sisa hidup mereka.
 Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan
 kita ketimbang keluarga kita sendiri,
 suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?
 Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
 Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
 Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
> FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Sabtu, 08 Januari 2011

" DELAPAN KEBOHONGAN IBU "

Untuk kita renungkan,begitu besar cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada kita.Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas da...ri penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

PERTAMA

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar”

KEDUA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.

Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
KETIGA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”

KEEMPAT

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!”

KELIMA

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

KEENAM

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya uang”
KETUJUH

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”

KEDELAPAN

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta.

Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.

Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”

***

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk selama lamanya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh
dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu …!”
Coba kita fikir, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita?

Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?

Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum?

Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum?

Apakah ini benar? Kalau ya, mari kita renungkan kembali ….

Disaat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik.

Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari......

apalagi yang harus kita sombongkan?

Dua orang lelaki yang datang bertamu ke rumah seorang bijak tertegun keheranan. Mereka melihat si orang bijak sedang bekerja keras. Ia mengangkut air dalam ember kemudian menyikat lantai rumahnya. Keringatnya deras bercucuran. Menyaksikan keganjilan ini salah seorang lelaki ini bertanya, ''Apakah yang sedang engkau lakukan hai orang bijak?''

Orang bijak menjawab, ''Tadi aku kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat kepadaku. Aku memberikan banyak nasihat yang sangat bermanfaat bagi mereka. Merekapun tampak puas dan bahagia mendengar semua perkataanku. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang hebat. Kesombonganku mulai bermunculan. Karena itu, aku melakukan pekerjaan ini untuk membunuh perasaan sombongku itu.''

Para BFers, sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua yang benih-benihnya sering muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong sering disebabkan karena faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih cantik, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong sering disebabkan faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, lebih bijaksana dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong sering disebabkan faktor kebaikan. Kita seringkali menganggap diri kita lebih berakhlak, lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan ini, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi akan sangat mudah terlihat tetapi sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih yang halus di dalam hati kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Pada tataran yang wajar, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Namun, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Bahkan, seringkali batas antara bangga dan sombong tak terlalu jelas.

Diri kita sebenarnya terdiri atas dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan diri sejati di lain kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita sepenuhnya berada dalam kutub diri sejati, kita lahir dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Kita sama sekali bebas dari materi apapun. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, kita mulai memiliki berbagai kebutuhan materi. Bahkan, lebih dari sekedar yang kita butuhkan dalam hidup, kelima indra kita selalu mengatakan bahwa kita membutuhkan yang lebih banyak lagi.

Perjalanan hidup seringkali mengantarkan kita menuju kutub ego. Perjalanan inilah yang memperkenalkan kita kepada kesombongan, kerakusan, serta iri dan dengki. Ketiga sifat ini adalah akar segala permasalahan yang terjadi dalam sejarah umat manusia.

Perjuangan melawan kesombongan sebenarnya adalah perjuangan menarik diri kita ke kutub diri sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya ada dua perubahan paradigma yang perlu Anda lakukan. Pertama, Anda perlu menyadari bahwa hakikat manusia adalah diri sejati, kita bukanlah makhluk fisik tetapi makhluk spiritual.

Diri sejati kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah syarat kita untuk hidup di dunia. Kita lahir tanpa membawa apa-apa, dan kita mati pun tanpa membawa apa-apa. Pandangan seperti ini akan membuat Anda melihat siapapun sebagai manusia yang sama. Anda tidak akan lagi tertipu oleh penampilan, kecantikan, dan segala ''tampak luar'' yang lain. Yang kini Anda lihat adalah ''tampak dalam.'' Pandangan seperti ini sudah pasti akan menjauhkan Anda dari berbagai kesombongan.

Kedua, Anda perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang Anda lakukan, semuanya itu semata-mata adalah untuk diri Anda sendiri. Anda menolong orang untuk kebaikan Anda sendiri. Anda memberikan sesuatu kepada orang lain adalah untuk Anda sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi: Energi yang Anda berikan kepada dunia tak akan pernah hilang. Energi itu akan kembali kepada Anda dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang Anda lakukan pasti akan kembali kepada Anda dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, perasaan bermakna maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik pada orang lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apalagi yang harus kita sombongkan?